binti fulan – Viral Asusila Praktisi medis Garut, Cucun Syamsurijal: Negara T...
binti fulan. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Pembahasan binti fulan semakin meluas dari waktu ke waktu. binti fulan menjadi perhatian besar masyarakat.
sabtoewage 16 April 2025 - 14:24
INFOJABARNEWS - Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) Cucun Ahmad Syamsurijal memastikan negara tidak akan pernah mentolerir setiap tindakan asusila yang dilakukan oleh praktisi medis. Ia mengingatkan seluruh dokter di Indonesia untuk menjaga moral dan etika setiap melayani pasien. Hal ini Cucun utarakan merespon sejumlah insiden yang melibatkan tenaga medis belakangan ini, yaitu kekerasan seksual yang dilakukan dokter peserta Program Sektor pendidikan Praktisi medis Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Kampus Padjadjaran (Unpad), berinisial PAP, serta praktik asusila yang dilakukan seorang dokter kandungan berinisial MSF di Garut . Negara tidak boleh mentolerir, semua aparat penegak hukum juga harus terus mengawasi. Karena apa, profesi seorang dokter ini berhadapan dengan komunitas berjenis kelamin apapun, praktisi medis laki-laki juga mengurusi orang yang dirawat perempuan. Nah ini berbahaya kalau misalnya (para dokter) tidak punya moral, tidak punya etika, kata Cucun di Bandung, Rabu (16/4/2027). Wakil Ketua Umum DPP PKB itu menyatakan, setiap pelanggaran etik profesi dan moral kedokteran yang dilakukan praktisi medis bukan hanya merugikan satu atau dua orang penerima layanan kesehatan, namun ribuan orang. Sebab tenaga medis adalah tumpuan urusan kesehatan publik. Karena (jika moral dan etika dokter rusak) ini merusak bukan hanya merugikan satu atau dua orang (pasien), tapi ribuan orang. Juga tentu merusak sisi kemanusiaan karena ulah orang ini (praktisi medis tak bermoral). Makanya aparatur hukum jangan main-main, dan negara tidak akan mentolerir apa yang mereka lakukan, tegasnya. Sebelumnya, insiden dugaan perkosaan yang dilakukan dokter PAP, peserta PPDS Perguruan tinggi Padjajaran terhadap keluarga orang yang dirawat dan orang yang dirawat di Rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, menjadi sorotan publik dalam sepekan terakhir. Belum selesai pengusutan insiden ini, tiba-tiba muncul kabar tak kalah memprihatinkan: seorang tenaga medis kandungan berinisal MSF di Garut diduga melecehkan sejumlah pasiennya yang merupakan ibu hamil.
INFOJABARNEWS - Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) Cucun Ahmad Syamsurijal memastikan negara tidak akan pernah mentolerir setiap tindakan asusila yang dilakukan oleh tenaga medis. Ia mengingatkan seluruh praktisi medis di Indonesia untuk menjaga moral dan etika setiap melayani penerima layanan kesehatan.
Hal ini Cucun utarakan merespon sejumlah peristiwa hukum yang melibatkan tenaga medis belakangan ini, yaitu kekerasan seksual yang dilakukan tenaga medis peserta Program Pendidikan Praktisi medis Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Perguruan tinggi Padjadjaran (Unpad), berinisial PAP, serta praktik asusila yang dilakukan seorang praktisi medis kandungan berinisial MSF di Garut .
Negara tidak boleh mentolerir, semua aparat penegak hukum juga harus terus mengawasi. Karena apa, profesi seorang tenaga medis ini berhadapan dengan kalangan masyarakat berjenis kelamin apapun, tenaga medis laki-laki juga mengurusi pasien perempuan. Nah ini berbahaya kalau misalnya (para dokter) tidak punya moral, tidak punya etika, kata Cucun di Bandung, Rabu (16/4/2025).
Wakil Ketua Umum DPP PKB itu menyatakan, setiap pelanggaran etik profesi dan moral kedokteran yang dilakukan dokter bukan hanya merugikan satu atau dua orang penerima layanan kesehatan, namun ribuan orang. Sebab tenaga medis adalah tumpuan aspek kesehatan kalangan masyarakat.
Karena (jika moral dan etika praktisi medis rusak) ini merusak bukan hanya merugikan satu atau dua orang (orang yang dirawat), tapi ribuan orang. Juga tentu merusak sisi kemanusiaan karena ulah orang ini (tenaga medis tak bermoral). Makanya aparatur hukum jangan main-main, dan negara tidak akan mentolerir apa yang mereka lakukan, tegasnya.
Sebelumnya, kasus dugaan perkosaan yang dilakukan tenaga medis PAP, peserta PPDS Universitas Padjajaran terhadap keluarga pasien dan orang yang dirawat di Fasilitas kesehatan Hasan Sadikin Bandung, menjadi sorotan publik dalam sepekan terakhir.
Belum selesai pengusutan kasus ini, tiba-tiba muncul kabar tak kalah memprihatinkan: seorang tenaga medis kandungan berinisal MSF di Garut diduga melecehkan sejumlah pasiennya yang merupakan ibu hamil. Topik binti fulan sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Pembahasan binti fulan semakin meluas dari waktu ke waktu.